80 Tahun Indonesia Merdeka; “Warga Menangis”, Jalan Poros Moncobalang Gowa Rusak Parah

Gowa,sudutpandangrakyat.com-Delapan dekade berlalu sejak Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, namun ironi masih mencengkeram Desa Moncobalang, Kecamatan Barombong Kab Gowa. Di tengah gemerlap kemajuan kota, masyarakat di sini justru terperangkap dalam kegelapan malam yang mencekam. Jalan penghubung vital antara Kabupaten Gowa dan Takalar, yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian, berubah menjadi lorong gelap gulita setelah mentari terbenam ( 18/8)
Kegelapan bukan hanya absennya cahaya, tetapi juga simbol ketidakpedulian. Masyarakat Moncobalang bertanya-tanya, apakah pemerintah daerah menutup mata terhadap kondisi memprihatinkan ini? Jalan yang seharusnya menjadi aksesibilitas, justru menjadi momok menakutkan.
Kondisi jalan semakin diperparah dengan kubangan-kubangan menganga. Lubang-lubang maut ini bukan hanya merusak kendaraan, tetapi juga mengancam nyawa setiap pengguna jalan. Rawan kecelakaan menjadi ancaman nyata bagi siapa saja yang melintas, terutama di malam hari yang gelap.
Setiap tahun, masyarakat Moncobalang taat membayar pajak. Namun, ke mana aliran dana tersebut bermuara? Pertanyaan ini menggantung tanpa jawaban. Masyarakat merasa hak mereka untuk menikmati pembangunan infrastruktur yang merata telah dirampas.
Pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi hak seluruh warga negara, tanpa memandang lokasi geografis. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Jalan-jalan perkotaan di kabupaten terus dipercantik, sementara jalan di Desa Moncobalang dibiarkan rusak dan gelap. Ketidakadilan ini menganga lebar, menciptakan jurang pemisah antara kota dan desa.
Masyarakat Desa Moncobalang menuntut keadilan. Mereka ingin merasakan pembangunan infrastruktur yang merata, seperti yang dijanjikan oleh kemerdekaan. Penerangan jalan yang memadai dan perbaikan jalan yang rusak adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.
Pemerintah daerah harus segera bertindak. Jangan biarkan Moncobalang terus merana dalam kegelapan. Alokasikan anggaran untuk penerangan jalan dan perbaikan infrastruktur. Jangan hanya fokus pada pembangunan kota, tetapi juga perhatikan nasib desa-desa yang selama ini terpinggirkan. Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali, dapat menikmati pembangunan yang adil dan merata.